Selasa, 15 Desember 2009

Pantun Sunda, Kesenian Yang Terlupakan

Perayaan ulang tahun Kota Bandung kembali digelar, sabtu (24/10). Ulang tahun kali ini mengambil tema Banadung Blossom : “the perfect 9 a day to remember”, perayaan ulang tahun kali ini diramaikan oleh 6000 orang yang terdiri dari komunitas seni dan kendaraan hias.
Pukul 08.00 WIB semua pengisi acara mulai memadati kawasan balai kota. Mereka sudah menghias diri dengan beragam pakaian unik, misalnya penggemar sepeda ontel mereka menggunakan pakaian zaman Belanda.

Pukul 09.00 acarapun dimulai. Iring-iringan komunitas seni mulai dari tari topeng, calung dan rampak dog dog, kaulinan urang lembur, pencak silat, boxer, Barongsai Naga Merah, Bambu Ritus Karinding, rampak reog, benjang, hingga tarian sister city yaitu tarian dari Jepang, Korea, dan Amerika mulai menunjukan kebolehannya.

Pukul 12.00 para kendaraan hiaspun mulai menunjukan keindahannya. Meskipun diwarnai dengan hujan, para penonton tetap mengikuti jalannya pawai. Apalagi ketika rombongan pemain Persib melewati mereka. Hidup Persib!! Hidup Maung Bandung!! Kata-kata inilah yang terlontar dari mulut mereka.

Tidak banyak kesenian yang beruntung seperti kesenian angklung, tari jaipong, dan kesenian lainnya yang dikenal masyarakat luas. Salah satu pengamat seni sunda, Mamat Sasmita, mengatakan dahulu kesenian sempat benar-benar tenggelam sekitar tahun 80-an banyak kebudayaan yang hilang salah satu penyebabnya adalah politik refresif. “Kita kan menjunjung persatuan dan kesatuan, kadang-kadang budaya daerah tidak terlalu ditonjolkan,” ujarnya.

Salah satu kesenian yang terlupakan adalah pantun sunda. Mungkin tak banyak orang yang mengenal kesenian satu ini. “Pantun itu sempat didokumentasikan oleh pak Ayib pada tahun 70-an. Mungkin tidak didokumentasikan bisa-bisa menghilang,” jelas Mamat.

Pantun sunda berbeda dengan pantun melayu atau pantun pada umumnya. Pantun sunda disajikan dalam bentuk cerita secara prolog, dialog, bahkan terkadang dinyanyikan dengan nuansa historis. Seni pantun ini disajikan oleh satu orang juru pantun sambil diiringi oleh alat musik kacapi yang dimainkan oleh juru pantun itu sendiri. Pantun sunda disajikan dalam cerita tokoh-tokoh islam, kabayan, dan cerita-cerita mitos lainnya. Pantun sunda ditampilkan pada saat syukuran hasil panen, khitanan, pernikahan, dan lain sebagainya.

Pantun Sunda Dahulu
Pantun sendiri sebenarnya telah lama ada, hal ini dibuktikan dengan adanya naskah Shangyang Siksa Kandang Karesyan pada tahun 1518 masehi. Dalam naskah ini disebutkan salah satunya adalah profesi pantun. Bapak Undang, dosen sastra sunda, mengatakan cerita-cerita yang disajikan dahulu adalah tentang Langgalarang, Banyakcatra, Siliwangi, dan lain sebagainya. “Jadi pada zaman dahulu apabila ingin mengetahui berbagai cerita tanyalah dengan juru pantun,” jelasnya.

Juru pantun dahulu berfungsi sebagai seorang narator pengisah sejarah. Undang menjelaskan dahulu juru pantun masuk dalam tatanan kelengkapan kenegaraan, “jadi istilahnya profesi ini betul-betul formal. Misalkan raja ingin tahu tentang suatu cerita atau sejarah maka dipanggilah juru pantun,” tambahnya.

Pertunjukan pantun biasa dimulai sekitar pukul 02.00 - 05.00. Sekalipun pertunjukan Pantun untuk hiburan, namun tidak sembarangan disajikan. Pantun masih dianggap oleh masyarakat Sunda memiliki sifat sakral yang selalu dikaitkan dengan upacara penghormatan pada leluhur.

Dengan demikian bentuk pertunjukan Pantun biasanya masih diikat dengan struktur pertunjukan yang baku dengan lakon yang selalu berkisar tentang raja-raja Sunda atau legenda masyarakat Sunda.

Sebelum memulai cerita pantun biasanya ada beberapa syarat seperti menyiapkan sesajen yang berisi kopi, cerutu, dan lain sebaginya sebagai bentuk ritual simbolis, menertibkan penonton, cerita yang disajikan harus terpilih, dan harus sesuai dengan waktu.

Dalam pantun ada beberapa struktur yaitu rajah, yanmaka cerita, cerita, dan rajah pamungkas. Rajah merupakan salah satu bentuk doksologi, ungkapan-ungkapan pengagungan kepada sang pencipta. Hal ini dilakukan karena sang juru pantun hanyalah sebagai penyampai saja. “juru pantun disini hanya sebagai mediator, jadi tokoh-tokoh yang dilakonkan di cerita ini berbicara sendiri melalu si juru pantun dengan kata lain orang-orang yang ada dalam cerita hadir langsung,” ujar Undang.

Nah, pada akhir cerita atau rajah pamungkas, seluruh orang yang dibicarakan dalam cerita dikembalikan ke tempatnya masing-masing. Undang menjelaskan apabila tidak dilakukan rajah pamungkas maka akan terjadi suatu kejadian misalnya salah penonton sakit, kesurupan, dan lain sebagainya.

Undang berpendapat pantun sunda sebenarnya tidak benar apabila menghilang karena kurangnya sang juru pantun. “sebenarnya juru pantun itu masih banyak salah satunya banyak terdapat di desa Manglayang,” ujar Undang. Ia berpendapat pantun sunda menghilang salah satunya adalah minat masyarakat yang kurang, “sekarang sudah banyak budaya asing yang masuk ke Indonesia yang menginvasi budaya asli, jadi masyarakat sekaarang lebih tertarik dengan budaya luar seperti dangdut, dibandingkan budaya aslinya,” tambah Undang.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright 2009 Masih Belajar Jadi Jurnalis. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemescreator